Sabtu, 19 Oktober 2013

Membandingkan 3 skripsi di universitas yang berbeda


TUGAS 3 BAHASA INDONESIA 2 # (kelompok)

Soal : Membuat karya tulis untuk membandingkan format penulisan dari tiga Perguruan Tinggi. Berikut adalah kesimpulannya.


KESIMPULAN

Penulis dapat menarik kesimpulan dari karya tulis yang telah penulis buat, bahwa format penulisan skripsi secara garis besar relatif sama. Ada beberapa hal kecil yang berbeda, diantaranya :
1.      Font yang digunakan pada Universitas Jakarta menggunakan Calibri, sedangkan Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma menggunakan Times New Roman
2.    Pada Universitas Indonesia terdapat Pernyataan Keaslian Karya Tulis dan Ucapan Terima kasih, sedangkan di Universitas lain tidak ada
3.      Abstrak atau Abstraksi tidak terdapat pada Universitas Jakarta
4.      Penomoran di Universitas Jakarta berada di pojok kanan atas, Universitas Indonesia berada di  pojok kanan bawah, dan Universitas Gunadarma berada di pojok kanan atas
5.      Terdapat perbedaan jumlah bab di setiap universitas
6.   Universitas terdapat daftar acuan dan daftar pustaka, sedangkan universitas lainnya hanya daftar pustaka saja
7.      Penulisan daftar pustaka berbeda setiap universitas.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Paradigma Kehidupan Jalanan


Jenis artikel : persuasif ( bersifat membujuk secara halus)

Nama : Gaby Clara Sinta Putri Widiana
Kelas  : 3EB03
NPM   : 22211985

Tugas ke-2 B.ndonesia 2# part 2 (Softskill)
-Membuat 2 buah tulisan pendek berbeda dengan bentuk/ sifat yang berbeda-

Kadang aku sering menyesal karena tidak memberi uang kepada para pengamen yang menghampiri angkutan umum yang aku tumpangi, setelah aku lihat raut mukanya ketika tidak ada seorang pun yang memberi uang kepadanya. Bahkan seringkali aku memikirkan ini berhari-hari, bagaimana nasib pengamen itu? Aku hanya empati.

Hujan turun deras sekali hari ini, tetapi anak- anak itu masih saja berlarian kesana kemari seakan tidak peduli akan derasnya hujan yang membasahi sekujur badan mereka. Aku menatap dari balik kaca bis metromini ini. Hanya bisa mengucap syukur, jika melihat banyak anak-anak jalanan itu yang sangat bersemangat mencari uang seakan terik panasnya matahari tidak menjadi penghalang, melawan kerasnya kehidupan jalanan. Perjuangan hidup ini memang sulit akupun mengakuinya.. semuanya seakan hanya diukur dengan uang, materi,kedudukan dan harta seperti hukum di hutan rimba yang kuatlah yang berkuasa.

Aku sedikit membuka jendela, mencari sedikit udara segar di tengah-tengah polusi ibukota dan pengapnya udara di dalam bis metromini ini. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, pengamen kembali menaiki metromini yang aku tumpangi ini. Aku merogoh saku celanaku, berniat untuk memberikan beberapa uang recehan kepada salah seorang anak laki-laki kecil itu.
Lampu merah di persimpangan jalan ini lama sekali. Ada 154 detik. Paradigma lalu lintas hari Senin ini cukup padat merayap, karena semua harus mengawali hari mereka pada hari senin ini untuk kembali bekerja.

Lagi- lagi aku melihat kerumunan anak jalanan, tetapi lain dari yang sebelumnya aku lihat. Segerombolan anak punk dan satu per satu dari mereka menghampiri ke berbagai kendaraan umum yang berjejer berbaris menunggu perlahan detik lampu merah. Mereka bernyanyi sesuka hati mereka membentuk suatu konsonan kata dalam lagu yang tidak beraturan, dengan tato yang entah permanen atau semi permanen di hampir sekujur tubuh mereka, lalu rambut yang berdiri keatas, diacat dengan warna terang seperti menirukan landak dan tindikan anting-anting dibagian yang tidak sewajarnya di tindik.

Aku tidak berkata bahwa anak punk itu semuanya tidak baik, tetapi menurutku mereka yang ada dijalanan ini salah penempatan. Mungkin aku mendeskripsikan mereka, agak berlebihan tapi ini yang sesungguhnya aku lihat di kedua mataku dan pikiranku mulai bertanya-tanya. Karena kedua mataku daritadi tak hentinya mengamati mereka semua.

Kemana orangtua mereka? Itu keren? Gaya hidup atau pilihan hidup? Dan seterusnya mereka mau menjadi seperti ini seumur hidup mereka? Mau menyumbangkan apa di hidup mereka?

Itu sekelumit pertanyaan yang muncul di otakku, aku memang belum sukses, tapi setidaknya aku berusaha untuk menggapai kesuksesan dan aku juga tidak berkata kalau aku lebih baik dari mereka, aku juga bukan siapa-siapa mereka, seharusnya aku memang tidak berhak memikirkan ini semua, apalagi mendeskripsikan yang tidak-tidak tentang mereka, akan tetapi mereka generasi muda bangsa ini bukan? Seorang Penerus.. banyak yang lebih baik dilakukan daripada harus seperti ini..

Aku pernah membaca suatu artikel dan menonton beberapa berita yang meliput tentang mereka. Mereka melakukan ini semua dijalanan hanya ingin bebas menuruti jalan pikiran mereka yang masih labil, meninggalkan orangtua yang sangat mencintai mereka dengan tulus, rela pergi kekota besar seperti ini rela meninggalkan rumah karena muak dengan setumpuk aturan yang orangtua mereka berikan. Lalu mabuk, tidur dimana saja, kerja serabutan melawan kerasnya kehidupan sendirian, dan tentunya bersama teman-teman sesama mereka yang sewaktu-waktu bisa saja terkena konflik yang berkepanjangan.


Semua itu memang pilihan hidup mereka dan aku sama sekali tidak berhak ikut campur sedikitpun. Live has been you’re change guys! Mari kita memanfaatkan setiap detik dari kesempatan yang Tuhan berikan pada hidup kita dengan melakukan hal yang terbaik, menggapai mimpi dan cita – cita kita walau itu sulit tapi pasti Tuhan akan memberikan hasil yang sangat menakjubkan pada setiap usaha kita nantinya, amin. (Oleh gaby clara)

Kamis, 10 Oktober 2013

Daratan Tinggi Dieng yang Menawan

Nama : Gaby Clara Sinta P.W
NPM : 22211985
Kelas : 3EB03

Naratif (Cerita dari suatu peristiwa)

Tugas ke-2 Part 2 B.ndonesia 2# (Softskill)
-Membuat 2 buah tulisan pendek berbeda dengan bentuk/ sifat yang berbeda-



Ingin merasakan udara dingin sedingin di Eropa? Melihat embun-embun yang mengkristal bahkan salju dan gumpalan awan yang bergemuruh disertai sunrise dan sunset matahari didepan mata kita sendiri.. sepertinya kita tidak usah jauh-jauh untuk berangkat ke luar negeri di negeri kita sendiri pun kita dapat merasakannya.

Awalnya, saya mengira Daratan Tinggi Dieng seperti daratan tinggi biasa lainnya yang berada di Indonesia. Saya pun terheran ketika mencari sebuah homestay, banyak orang terutama turis dari dalam negeri mengenakan pakaian-pakaian musim dingin. Saya pun berpikir mereka terlalu berlebihan. Tetapi ketika saya keluar dari mobil, menapakkan kaki ke ubin homestay yang sudah dipilih keluarga saya. Ternyata benar-benar sangat dingin, nafas kita pun menjadi uap yang berhembus ke udara apalagi ketika kita berbicara rasanya seperti di film – film Korea.

Tapi sayangnya, di Dieng tidak banyak menjual makanan. Hanya warung-warung kecil saja itupun letaknya berjauhan dari homestay yang saya singgahi. Saya menginap dua hari satu malam.

Untuk mencapai ke daerah ini, dari Jakata kira – kira 15 jam, itupun dengan jalan yang santai. Daratan Tinggi Dieng ini, di daerah Wonosobo Jawa Tengah. Jadi kita  harus siap-siap dikejutkan oleh beberapa tanjakan yang sangat ekstrim ketika menapakii jalanan menuju Daratan Tinggi Dieng ini.

Kami kesini sengaja mengejar sunrise, menikmati panorama yang indah. Dari pegunungan – pegunungan dan bukit yang berjejer. Sengaja melepaskan penat dari aktivitas kota yang memuakkan. Tetapi sebelum kesini, saya sarankan mnepi dulu di angkringan dari wonosobo yang buka 24 jam.. disana banyak sekali sepeda-sepeda seperti delman yang di kendarai oleh banyak orang dan dihias oleh lampu-lampu yang menambah daya tarik sepeda khas wonosobo itu.







Saat tiba di homestay, saya langsung tertidur lelap di tempat tidur. Melepas lelah dengan sekelumit arus mudik yang membuat resah. Kira –kira dua sampai tiga jam dan setelah itu bersih-bersih. Saya pun dibuat kesal dengan pacar kakak sepupu saya kami sedikit bertengkar karena saluran televisi. Dan akhirnya ia pun mengalah setelah saya adukan ke kakak sepupu saya, masa cowo doyannya nonton sinetron di Indosiar.

Sore hari sekitar pukul empat sore saya memulai mejelajahi Dieng, ke Kawah Dieng terlebih dahulu,ketika mau masuk kesini saya disambut dengan kuda lumping khas Dieng lbih seram dari kuda lumping yang biasa saya lihat, muka mereka dicat warna merah termasuk mata dan bibir mereka kuda lumpingnya pun ditemani dengan singa, kabarnya singa itu memang penunggu di sini. Sebaiknya bawa masker dari rumah, karena masker mahal sekali disini. Baunya sangat menyengat, dan seperti tangkuban perahu. Tapi ini lebih menyengat baunya. Setelah keluar dari sini, saya menyempatkan ke kedai-kedai kecil menghilangkan rasa dingin yang sangat menusuk tulang, mencicipi pepaya khas Dieng


Semakin malam, hawa disini semakin sangat dingin. Nasi uduk yang saya belipun sangat dingin sekali. Teh hangat yang saya pesan pun sama sekali tidak ada hangat-hangatnya. Semuanya serba dingin disini.

Benar sekali, ketika sampai di homestay saya melihat suhu termometer yang ditempel didinding, termometer itu menunjukkan angka 10 derajat, bahkan kata pemilik homestay menjelaskan saat bulan-bulan musim kemarau seperti ini bisa samapi titik beku yaitu 0 deraja celcius biasanya pada bulan September.

Menggigil sampai jam 12 malam saya terjaga, dingin disini tidak seperti dingin di puncak atau pegunungan lain. Sangat berbeda. Dan sayapun menghampiri orang-orang dibawah yang menyalakan api untuk menghangatkan diri, mereka bercerita kalau Dieng ini memang daratan tertinggi sedunia ke 2 pantas saja dinginnya mencapai titik klimaks.

Keesokan harinya, dengan udara yang masih sangat amat dingin. Saya dikejutkan dengan embun-embun di daun yang mengkristal. Suka sekali mengamati para petani wortel, kentang, yang sedang panen tepat didepan homestay. Saya mengamati mereka dari atas balkon. Dan para turis-turis bule, sibuk mengabadikan mereka dengan camera. Bahkan ada yang sampai terjun ke ladang untuk berfoto.

Oiya air panas disini harus sampai mendidih dulu, baru terasa hangatnya. Karena kalau kita menyetel water heater dengan setengah setengah itu tidak akan berasa hangatnya. Kedinginan salah kepanasan juga salah, makhluk bagian tropis memang serba salah.

Ketika tepat jam 12 siang kami pun cek out dari homestay, homestay milik penduduk disini lebih bagus daripada hotel-hotel kecil. Tempatnya juga sangat nyaman. Tetapi sering penuh karena banyaknya pengunjung yang datang kesini, apalagi saat musim liburan.

Menyempatkan untuk menonton tragedi Dieng dan sejarah Dieng di Teater, dan melihat panorama Telaga Warna juga flower garden yang letaknya dekat dengan museum.


Paradigma Kehidupan Jalanan


Jenis artikel : deskriptif

Nama : Gaby Clara Sinta Putri Widiana
Kelas  : 3EB03
NPM   : 22211985

Tugas ke-2 Part 1 B.ndonesia 2# (Softskill)
-Membuat 2 buah tulisan pendek berbeda dengan bentuk/ sifat yang berbeda-




            Kadang aku sering menyesal karena tidak memberi uang kepada para pengamen yang menghampiri angkutan umum yang aku tumpangi, setelah aku lihat raut mukanya ketika tidak ada seorang pun yang memberi uang kepadanya. Bahkan seringkali aku memikirkan ini berhari-hari, bagaimana nasib pengamen itu? Aku hanya empati..
            

             Hujan turun deras sekali hari ini, tetapi anak- anak itu masih saja berlarian kesana kemari seakan tidak peduli akan derasnya hujan yang membasahi sekujur badan mereka. Aku menatap dari balik kaca bis metromini ini. Hanya bisa mengucap syukur, jika melihat banyak anak-anak jalanan itu yang sangat bersemangat mencari uang seakan terik panasnya matahari tidak menjadi penghalang, melawan kerasnya kehidupan jalanan. Perjuangan hidup ini memang sulit akupun mengakuinya.. semuanya seakan hanya diukur dengan uang, materi,kedudukan dan harta seperti hukum di hutan rimba yang kuatlah yang berkuasa.
            
            Aku sedikit membuka jendela, mencari sedikit udara segar di tengah-tengah polusi ibukota dan pengapnya udara di dalam bis metromini ini. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, pengamen kembali menaiki metromini yang aku tumpangi ini. Aku merogoh saku celanaku, berniat untuk memberikan beberapa uang recehan kepada salah seorang anak laki-laki kecil itu.
            Lampu merah di persimpangan jalan ini lama sekali. Ada 154 detik. Paradigma lalu lintas hari Senin ini cukup padat merayap, karena semua harus mengawali hari mereka pada hari senin ini untuk kembali bekerja.
            
            Lagi- lagi aku melihat kerumunan anak jalanan, tetapi lain dari yang sebelumnya aku lihat. Segerombolan anak punk dan satu per satu dari mereka menghampiri ke berbagai kendaraan umum yang berjejer berbaris menunggu perlahan detik lampu merah. Mereka bernyanyi sesuka hati mereka membentuk suatu konsonan kata dalam lagu yang tidak beraturan, dengan tato yang entah permanen atau semi permanen di hampir sekujur tubuh mereka, lalu rambut yang berdiri keatas, diacat dengan warna terang seperti menirukan landak dan tindikan anting-anting dibagian yang tidak sewajarnya di tindik.
            
            Aku tidak berkata bahwa anak punk itu semuanya tidak baik, tetapi menurutku mereka yang ada dijalanan ini salah penempatan. Mungkin aku mendeskripsikan mereka, agak berlebihan tapi ini yang sesungguhnya aku lihat di kedua mataku dan pikiranku mulai bertanya-tanya. Karena kedua mataku daritadi tak hentinya mengamati mereka semua.
            
           Kemana orangtua mereka? Itu keren? Gaya hidup atau pilihan hidup sih? Dan seterusnya mereka mau menjadi seperti ini seumur hidup mereka? Mau menyumbangkan apa di hidup mereka?
           
           Itu sekelumit pertanyaan yang muncul di otakku, aku memang belum sukses, tapi setidaknya aku berusaha untuk menggapai kesuksesan dan aku juga tidak berkata kalau aku lebih baik dari mereka, aku juga bukan siapa-siapa mereka, seharusnya aku memang tidak berhak memikirkan ini semua, apalagi mendeskripsikan yang tidak-tidak tentang mereka, akan tetapi mereka generasi muda bangsa ini bukan? Penerus.. banyak yang lebih baik dilakukan..
           
         Aku pernah membaca suatu artikel dan menonton beberapa berita yang meliput tentang mereka. Mereka melakukan ini semua dijalanan hanya ingin bebas menuruti jalan pikiran mereka yang masih labil, meninggalkan orangtua yang sangat mencintai mereka dengan tulus, rela pergi kekota besar seperti ini rela meninggalkan rumah karena muak dengan setumpuk aturan yang orangtua mereka berikan. Lalu mabuk, tidur dimana saja, kerja serabutan melawan kerasnya kehidupan sendirian, dan tentunya bersama teman-teman sesama mereka yang sewaktu-waktu bisa saja terkena konflik yang berkepanjangan.
         
        Semua itu memang pilihan hidup mereka dan aku sama sekali tidak berhak ikut campur sedikitpun. Live has been you’re change guys! Kita menulis sendiri catatan harian kehidupan kita. Dan kini aku hanya bisa menunduk, diam dann prihatin.. (Oleh gaby clara)



PKL Pasar Anyar Kuasai Jalan


Nama         : Gaby Clara S.P.W
NPM           : 22211985
Kelas          : 3EB03
TUGAS 1



Sumber : warta kota (Selasa, 8 Oktober 2013)

·         Argumentatif (suatu alasan yang disertai dengan bukti) → Naratif ( cerita dari suatu peristiwa)

            Karna (51) adalah salah satu dari puluhan penjual bawang dan ratusan pedagang kaki lima lain yang memadati kawasan Jalan Ahmad Yani, Pasar Anyar Kota Tangerang. Ironisnya, Karna adalah penjual yang letaknya tepat didepan gedung PD Pasar jaya Pasar Anyar.
            Kepada Koran Warta Kota, secara terang-terangan Karna mengakui bahwa sebenarnya para pedagang dilarang berjualan di trotoar dan badan jalan. Karena pendapatan yang tidak seimbang perhari jika berjualan didalam pasar per hari menjadi ala an wanita separuh baya ini untuk tetap berjualan di pinggir jalan.
            Karna menuturkan, jika ia dan pedagang lainnya menuruti aturan penghasilannya sangat berbeda jauh, jika berjualan didalam pasar, tidak ada orang yang menghampiri ke dalam pasar kalu sudah siang. Di badan jalan, Karna biasa berjualan mulai pukul 06.00 hingga pukul 17.00. pendapatan yang diperolehnya pun beragam setiap harinya. Mulai dari Rp 600.000 perhari.
            Lain halnya, jika Karna harus berjualan didalam pasar. Sehari ia hanya memperoleh Rp 200.000 per hari. Hanya ramai saat pagi. Saat menjelang siang dan sore hari hamper tidak ada pembeli yang dating menghampiri.

Berkali-kali ditertibkan
            Dijelaskan Karna pada Warta Kota, lapak tempatnya berjualan pun berkali-kali ditertibkan. Saat ditertibkan, ia pindah ke tempat lain dan nanti jika sudah sepi dari par petugas ia mulai berjulan lagi di sini.
            Hal senada juga dilontarkan Elfrida (40), penjual bumbu dapur di pinggiran Jalan Ahmad Yani Pasar Anyar meskipun baru sekitar dua bulan berjualan, Elfrida juga mengakui bahwa penghasilan yang ia dapat ketika berjualan di luar asar jauh lebih banyak, ujar wanita warga Tanah Tinggi, Tangrang yang menjual jahe, temulawak, kayu manis, lada dan bumbu dapur lainnya.
            Sementara itu, Doni (39), seorang penjual minuman ringan gerobak di pinggiran jalan mengaku bahwa ia sudah berjualan di titik yang sama kurang lebih selama 20 tahun, “ yang penting kan kita tidak menyusahkan pejalan kaki. Kendaraan juga masih bisa lewat kok”, ujarnya.
            Doni menuturkan, untuk PKL yang dagangannya bukan sayur-sayuran dan buah-buahan, tidak dipermasalahkan berdagang di pinggiran jalan. Ia menambahkan, dirinya sendiri sehari bias berpenghasilan Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per hari.

Menyempit 4 meter

Seperti yang dipantau oleh Warta Kota di lokasi pada Sabtu pukul 10.00 hingga 11.00, banyak tenda dan payung warna-warniberagam jenis PKL terlihat memenuhi badan jalan dan trotoar Jalan Ahmad Yani. Mulai dari pedagang sayuran, pedagang buah, pedagang makanan dan minuman gerobak, hingga penjual tas dan DVD.
            Keberadaan PKL tersebut pun mengganggu arus lalu lintas. Pasalnya, badan Jalan Ahmad Yani yang selebar kurang lebih 8 meter, kini menyusut hingga 4 meter. hal itu menyebabkan arus lalu lintas dua arah  di jalan tersebut menjadi terhambat. Kendaraan yang dating aria rah jalan Pasar Anyar Selatan maupun Anyar Utara yang hendak menuju gedung PD Pasar Jaya Pasar Anyar pun hamper selalu berjibaku di depan gedung pasar. Ragam suara klakson dari berbagai macam kendaraan yang hamper setiap detik bersahut-sahutan di jalan ini pun bukan menjadi suatu hal yang aneh lagi.

Pagi Hari

            Sejumlah pengguna jalan pun mengakui bahwa keberadaan para PKL memang membuat mereka gerah. Ayun (51) salah seorang pengunjung pasar saat ditemui Warta Kota mengatakan jika sudah siang masih mending jika dibandingkan pagi hari, yang membuat tarik urat ujarnya.
            Sementara Hamidah (28), warga lainnya mengatakan, PKL disana pernah beberapa kali ditertibkan. Namun, penertiban tersebut tidak bertahan lama.