Kamis, 10 Oktober 2013

Daratan Tinggi Dieng yang Menawan

Nama : Gaby Clara Sinta P.W
NPM : 22211985
Kelas : 3EB03

Naratif (Cerita dari suatu peristiwa)

Tugas ke-2 Part 2 B.ndonesia 2# (Softskill)
-Membuat 2 buah tulisan pendek berbeda dengan bentuk/ sifat yang berbeda-



Ingin merasakan udara dingin sedingin di Eropa? Melihat embun-embun yang mengkristal bahkan salju dan gumpalan awan yang bergemuruh disertai sunrise dan sunset matahari didepan mata kita sendiri.. sepertinya kita tidak usah jauh-jauh untuk berangkat ke luar negeri di negeri kita sendiri pun kita dapat merasakannya.

Awalnya, saya mengira Daratan Tinggi Dieng seperti daratan tinggi biasa lainnya yang berada di Indonesia. Saya pun terheran ketika mencari sebuah homestay, banyak orang terutama turis dari dalam negeri mengenakan pakaian-pakaian musim dingin. Saya pun berpikir mereka terlalu berlebihan. Tetapi ketika saya keluar dari mobil, menapakkan kaki ke ubin homestay yang sudah dipilih keluarga saya. Ternyata benar-benar sangat dingin, nafas kita pun menjadi uap yang berhembus ke udara apalagi ketika kita berbicara rasanya seperti di film – film Korea.

Tapi sayangnya, di Dieng tidak banyak menjual makanan. Hanya warung-warung kecil saja itupun letaknya berjauhan dari homestay yang saya singgahi. Saya menginap dua hari satu malam.

Untuk mencapai ke daerah ini, dari Jakata kira – kira 15 jam, itupun dengan jalan yang santai. Daratan Tinggi Dieng ini, di daerah Wonosobo Jawa Tengah. Jadi kita  harus siap-siap dikejutkan oleh beberapa tanjakan yang sangat ekstrim ketika menapakii jalanan menuju Daratan Tinggi Dieng ini.

Kami kesini sengaja mengejar sunrise, menikmati panorama yang indah. Dari pegunungan – pegunungan dan bukit yang berjejer. Sengaja melepaskan penat dari aktivitas kota yang memuakkan. Tetapi sebelum kesini, saya sarankan mnepi dulu di angkringan dari wonosobo yang buka 24 jam.. disana banyak sekali sepeda-sepeda seperti delman yang di kendarai oleh banyak orang dan dihias oleh lampu-lampu yang menambah daya tarik sepeda khas wonosobo itu.







Saat tiba di homestay, saya langsung tertidur lelap di tempat tidur. Melepas lelah dengan sekelumit arus mudik yang membuat resah. Kira –kira dua sampai tiga jam dan setelah itu bersih-bersih. Saya pun dibuat kesal dengan pacar kakak sepupu saya kami sedikit bertengkar karena saluran televisi. Dan akhirnya ia pun mengalah setelah saya adukan ke kakak sepupu saya, masa cowo doyannya nonton sinetron di Indosiar.

Sore hari sekitar pukul empat sore saya memulai mejelajahi Dieng, ke Kawah Dieng terlebih dahulu,ketika mau masuk kesini saya disambut dengan kuda lumping khas Dieng lbih seram dari kuda lumping yang biasa saya lihat, muka mereka dicat warna merah termasuk mata dan bibir mereka kuda lumpingnya pun ditemani dengan singa, kabarnya singa itu memang penunggu di sini. Sebaiknya bawa masker dari rumah, karena masker mahal sekali disini. Baunya sangat menyengat, dan seperti tangkuban perahu. Tapi ini lebih menyengat baunya. Setelah keluar dari sini, saya menyempatkan ke kedai-kedai kecil menghilangkan rasa dingin yang sangat menusuk tulang, mencicipi pepaya khas Dieng


Semakin malam, hawa disini semakin sangat dingin. Nasi uduk yang saya belipun sangat dingin sekali. Teh hangat yang saya pesan pun sama sekali tidak ada hangat-hangatnya. Semuanya serba dingin disini.

Benar sekali, ketika sampai di homestay saya melihat suhu termometer yang ditempel didinding, termometer itu menunjukkan angka 10 derajat, bahkan kata pemilik homestay menjelaskan saat bulan-bulan musim kemarau seperti ini bisa samapi titik beku yaitu 0 deraja celcius biasanya pada bulan September.

Menggigil sampai jam 12 malam saya terjaga, dingin disini tidak seperti dingin di puncak atau pegunungan lain. Sangat berbeda. Dan sayapun menghampiri orang-orang dibawah yang menyalakan api untuk menghangatkan diri, mereka bercerita kalau Dieng ini memang daratan tertinggi sedunia ke 2 pantas saja dinginnya mencapai titik klimaks.

Keesokan harinya, dengan udara yang masih sangat amat dingin. Saya dikejutkan dengan embun-embun di daun yang mengkristal. Suka sekali mengamati para petani wortel, kentang, yang sedang panen tepat didepan homestay. Saya mengamati mereka dari atas balkon. Dan para turis-turis bule, sibuk mengabadikan mereka dengan camera. Bahkan ada yang sampai terjun ke ladang untuk berfoto.

Oiya air panas disini harus sampai mendidih dulu, baru terasa hangatnya. Karena kalau kita menyetel water heater dengan setengah setengah itu tidak akan berasa hangatnya. Kedinginan salah kepanasan juga salah, makhluk bagian tropis memang serba salah.

Ketika tepat jam 12 siang kami pun cek out dari homestay, homestay milik penduduk disini lebih bagus daripada hotel-hotel kecil. Tempatnya juga sangat nyaman. Tetapi sering penuh karena banyaknya pengunjung yang datang kesini, apalagi saat musim liburan.

Menyempatkan untuk menonton tragedi Dieng dan sejarah Dieng di Teater, dan melihat panorama Telaga Warna juga flower garden yang letaknya dekat dengan museum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar